suarasukabumi.netSUKABUMI, Pemerintah Kabupaten Sukabumi terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan (EBT), khususnya pemanfaatan langsung energi panas bumi. Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Teknis Pemanfaatan Langsung Panas Bumi yang melibatkan aparatur pemerintah dan pengelola lokasi mata air panas di Kabupaten Sukabumi.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 29–30 April 2026 di kawasan Selabintana, merupakan hasil kolaborasi antara Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Sukabumi.

Sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan tersebut, terdiri atas 10 aparatur Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan 10 penanggung jawab lapangan lokasi mata air panas.

Kepala Disdagin Kabupaten Sukabumi, Dani Tarsoni, mengatakan pelatihan ini menjadi bagian dari sinergi pemerintah pusat dan daerah dalam mengoptimalkan potensi energi lokal yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor energi.

“Pelatihan ini sejalan dengan komitmen PPSDM KEBTKE dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor energi melalui program pendidikan dan pelatihan yang adaptif, relevan, serta sesuai kebutuhan industri dan potensi daerah,” ujar Dani.

Menurutnya, Kabupaten Sukabumi memiliki sejumlah kawasan wisata air panas yang berpotensi dikembangkan lebih optimal. Karena itu, peningkatan kompetensi pengelola menjadi langkah penting, termasuk dalam penerapan Sertifikat Laik Operasi (SLO) guna memastikan standar keselamatan dan tata kelola yang baik.

“Dengan adanya SLO di destinasi wisata air panas, kami berharap pengelolaan menjadi lebih profesional dan mampu meningkatkan daya tarik pariwisata Kabupaten Sukabumi,” katanya.

Selain meningkatkan kualitas pengelolaan wisata, pelatihan tersebut juga diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperdalam kajian potensi panas bumi di Kabupaten Sukabumi. Mulai dari identifikasi karakteristik mata air panas, pemetaan potensi pemanfaatan, studi kelayakan, hingga pengembangan proyek percontohan berbasis energi panas bumi.

Dani menambahkan, pengembangan sektor ini memerlukan penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan melalui pembinaan, pengawasan, pengendalian berkelanjutan, serta promosi dan pemasaran produk berbasis energi panas bumi.

Sementara itu, Subkoordinator Kerja Sama PPSDM KEBTKE, Endah Heliana, menjelaskan bahwa peserta mendapatkan berbagai materi mulai dari regulasi, aspek teknis, keselamatan kerja, perizinan, praktik lapangan, pengambilan sampel, verifikasi Sertifikat Laik Operasi (SLO), hingga penggunaan peralatan pemanfaatan langsung panas bumi.

“Pelatihan ini difokuskan untuk meningkatkan kapasitas SDM agar mampu mengelola potensi panas bumi secara langsung dan produktif bagi kegiatan ekonomi masyarakat,” jelas Endah.

Menurutnya, PPSDM KEBTKE berkomitmen menyiapkan sumber daya manusia sektor energi yang mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus mengoptimalkan potensi daerah.

“Program ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya ekosistem ekonomi berbasis panas bumi di Sukabumi yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Pengembangan SDM dan Kewirausahaan, Benny Indra Batubara, menilai pemanfaatan langsung energi panas bumi memiliki peluang besar untuk mendukung berbagai sektor ekonomi produktif.

Menurutnya, energi panas bumi tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, tetapi juga mendukung sektor pertanian, pengolahan hasil bumi, budidaya perikanan, pengembangan wisata berbasis panas bumi, hingga penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Panas bumi bukan hanya sumber energi, tetapi juga mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Ini merupakan bagian dari strategi pembangunan ekonomi hijau daerah,” ungkap Benny.

Ia menyebut Kabupaten Sukabumi sebagai salah satu wilayah strategis di Jawa Barat yang memiliki potensi panas bumi cukup besar, tersebar di kawasan Gunung Salak, Gunung Halimun, hingga Kawah Ratu.

“Pemanfaatan langsung panas bumi memiliki irisan kuat dengan penguatan UMKM, hilirisasi produk lokal, pengembangan pariwisata, hingga penciptaan usaha berbasis energi terbarukan,” tambahnya.

Salah seorang peserta pelatihan, Kepala Desa Wangunsari, Kecamatan Cisolok, Jonny, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru terkait pengelolaan dan pengembangan wisata berbasis panas bumi.

Ia berharap penerapan Sertifikat Laik Operasi di destinasi wisata air panas dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

“Pelatihan ini membuka wawasan baru bagi kami. Dengan pengelolaan yang lebih baik dan adanya SLO, kami berharap kunjungan wisata meningkat dan berdampak positif bagi desa, pelaku UMKM, masyarakat sekitar, maupun Pemkab Sukabumi,” tandasnya.

Melalui pelatihan tersebut, Pemkab Sukabumi berharap potensi panas bumi yang dimiliki daerah dapat dimanfaatkan secara optimal, tidak hanya sebagai sumber energi terbarukan, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Naskah ini menggunakan format berita online yang lazim dipakai portal berita daerah maupun nasional, dengan lead kuat, pengembangan isu, kutipan berjenjang dari beberapa narasumber, dan penutup yang menegaskan dampak serta tujuan program.

Tim.